New Sonic 150R Part II : Semplak Singkat Mencari Nikmat

Otoborn – Sebelumnya saya pernah mengulas mengenai tampilan New Sonic 150R di sini. Nah, pada kesempatan ini saya sedikit bercerita tentang rasanya semplak menyemplak diatas si ayago anyar Honda ini.

Kesempatan nyobain yang dikasi kang Kobay – kobayogas.com (trims kang) untuk icip icip ini, saya dapatkan tiga pekan lalu. Bersama teman teman blogger dan komentator blog bukan otoborn turing dadakan sama New Sonic ini, dan semoga artikel ini cukup mewakili rasanya menyemplak si New Sonic 150R.

Butuh pembanding untuk ergonomi , sempet pinjem Satria FU Om Triaz (trims om) dan sedikit membiasakan diri nyemplak ayago dari Suzuki itu. Si Saep sy pakai riding berboncengan dengan Mas Hari dari meetpoint 1 (cie ileeeh…) di Jalan Margonda Depok hingga Jl. Raya Bogor, dimana kang Kobay dan Kang Setyawan menanti di meetpoint 2. Bebek underbone itu memang ajib, butuh trik khusus untuk menaklukkan liarnya kopling dan beratnya tarikan awal. Namun salut untuk tarikan atas dan remnya yang maknyusss… Boleh lah tuh rem dihibah ke si bolang sy.. hehe..

31

Merasa cukup menyimak si Satria, bertukaran tunggangan kembali dan kali ini Evita om Alki saya tunggangi.. Btw, Evita cowo apa cewe ya?

Setelah berkumpul, rombongan (kang Kobay, kang Sety, om Alki, mas Hari, om Triaz dan saya) kembali fokus berangkat menuju lokasi test ride 1 di Cibubur, yang juga menjadi meetpoint 3 dimana kita ketemu sama kang Wisnu, kang Aril, Om Away – MXKing dan Om Dio dengan CBR K45 nya. Kesemua motor tersebut dikumpulkan oleh kang Kobay dan akan dibandingkan dengan New Sonic 150R. Sesi test 1 impresi riding masing masing motor, dengan bertukeran joki untuk mempelajari masing masing motor pembanding.

Dan kemudian meluncur ke lokasi test ride 2 di Cileungsi, sesi test untuk uji pencatatan waktu pada jarak 201 meter.

09a


Inilah yang bisa saya ceritain dari riding singkat namun membajak si New Sonic 150R ini.

Startup The Bike Machine

Masukkan kunci kontak dan kelistrikan diaktifkan. Tampilan speedometer full digital ketika kontak aktif memberikan kesan mewah dan canggih. Lalu setelah menunggu beberapa detik sy tekan tombol electric starter, tidak perlu waktu lama mesin pun menyala. Yang sy dapatkan:

  • Starter elektrik agak berat, tidak seperti milik matic Honda yang meluncur belakangan, apakah karena tidak ada fitur eSP ?
  • Suara mesin cenderung kasar,begitu juga ketika knalpot ditutup dengan alas kaki untuk memperjelas suara mesin. Apa karena belum servis ya?

Mencoba menghidupkan mesin menggunakan kick starter, kompresinya padat dan tidak ada kendala sehingga mesin hidup.

12a

Rasanya Duduk Di Atasnya Itu..

Sebelumnya sempat icip icip Satria FU milik om Triaz, lumayan juga buat pembanding.

Ketika mencoba duduk diatasnya (tanpa standar), kaki terasa pas berpijak untuk rider kecil seperti saya ini. Raihan stang agak kedepan, beda dengan Satria FU yang stang jepitnya lebih dekat menekuk ke belakang. Ini membedakan posisi badan sehingga sy  pun agak membungkuk ke depan. Jemari pun nyaman menempel di handle rem maupun kopling. Kaki pun cukup aman berpijak dan menginjak pedal rem. Namun sepertinya lebih oke kalo footpeg lebih mundur sedikit, ya selayaknya underbone lah.

Impresi Awal Riding

Buat saya yang terbiasa dengan overbore, butuh sedikit penyesuaian dengan limiter rpm yang ngepress di 10.000rpm. Tapi, setelah terbiasa, tiba tiba berasa jadi abg lagi deh.. ahahaha..

New Sonic sy ajak muter sebentar, merasakan akselerasi ringan dan perpindahan giginya di kecepatan rendah. Gear shifting rasanya kalah empuk dibanding All New CB150R, tapi tetap empuk sih.

Mungkinkah karena memang belum servis atau ganti oli? Atau memang begini ya?

13a

Pada kesempatan track lurus sejauh sekitar 600 meter yang sempat terputus oleh persimpangan empat arah, coba geber dari posisi kecepatan nol. Pada geber pertama, akselerasi si Sonic terasa rakus, sebentar minta oper gigi karena keburu kelimit di rpm 10.000. Tidak terlalu lama bertahan di gear 1-2-3, namun lumayan panjang untuk gear 4, sebelum minta dioper ke gear 5. Dan tak terasa sudah sampai persimpangan dan mengalah pada kendaraan lain.

Setelah persimpangan, mencoba mengulangi akselerasi di sisa track. Sedikit lebih baik, bisa eksplorasi sampai nafas gear4 nyaris habis dan merunut gas di gear 5 sempat melirik kecepatan speedometer mencapai angka 129 kpj. Sayang didepan keburu habis, poldur pun terpaksa dilibas , sekalian icip icip busa jok dan shockbreaker. Akselerasi gear per gear tidak tertangkap kamera hape yang ditempel didada, karena posisi body di gear atas agak merunduk..

Kapan ya punya Go Pro.. hehe..

32

yg ketangkep kamera gak pro

yg ketangkep kamera gak pro

yg ketangkep kamera gak pro

Ergonomi Riding

Sepertinya, untuk bodi mungil macam saya memang cocok ya nyemplak si ayago ini. Rasanya motor lincah dan ringan, enak dibawa santai dan ngga kedodoran meski habis hard braking dan langsung go pada gear atas – gear 4 atau 5 – masih berasa mendorong.

Cocok untuk jalan perkotaan, khususnya melibas dan selap selip di kemacetan macam di Jakarta.

07a

bro Away semplak Sonic

06a

bro Away semplak Sonic

Memang ada getar di stang yang terasa ketika rpm bermain di angka atas, namun masih lebih baik daripada si bolang yang sy tunggang sehari hari… ( yyaa.. iiyyyaaa laaahhhh….. )

Meskipun posisi badan agak merunduk, entah mengapa sy lebih rileks dan leluasa ketika sedikit mengajak Sonic stop n go dan melakukan zig zag kecil. Sepertinya karena posisi stang yang lebih tinggi dari FU yg sedikit lebih tekuk ke dalam. Sehingga, kalo saya ngga nunduk, kayaknya motor ga pede dibawa lari.. maunya ngangkat mulu…

Nge-rem.. Ampe Ngesot Ngesot…

Ternyata memang benar, urusan pengereman alias braking Sonic terbilang OK. Buktinya ketika diajak stop n go,  rem depan ajib.. ngga inget deh kalo cuma mengandalkan single piston untuk front.

Ketika hard braking dalam kecepatan sedang menggunakan rear brake, ajiib.. ngesott..

Setting pedal rem sangat sensitif dan dangkal, injak sedikit saja sudah bekerja. Bila terlalu dalam, bisa ngesot ngesot. Namun jarak pengereman menjauh. Kombinasi antara front dan rear brake, menghasilkan jarak pengereman yang maksimal.

Karena sebelumnya pakai FU om Triaz, menurut saya untuk urusan braking masih lebih nyaman FU. Tidak terlalu keras, juga tidak se ekstrim Evita dan si Bolang. Empuk deh pokoknya.. sama kayak selera saya.

Tapi rear brake rada mirip dengan Ninja 150SS om Sety, sensitif. Tips dari om Sety, yang perlu ditanamkan dibenak ketika nyemplak si Ninin yaitu ketika panik dan butuh rem mendadak jangan serta merta injak pedal rem, sebaiknya bermain di front brake, setelah aman baru kombinasikan dengan rear. Nah, ini juga valid untuk si New Sonic 150R.

30

om Alki selingkuh

Ajrut Ajrutan Di Jalan Berlubang Dan Berpasir

Sengaja saya minta ijin pak ketua untuk membawa si Sonic ketika rombongan selesai test dan akan berkumpul di markas fby rumah kang Wisnu. Tidak lain, karena medan yang saya tau cocok untuk menyimak lebih jauh bagaimana Sonic melibas jalan rusak dan berpasir di sepanjang rute menuju rumah kang Wisnu.

Yup, suspensi yang menjadi fokus utama, lalu kemampuan rem dan kelincahan handling menghindari lubang di jalan berpasir.

Jarak yang ditempuh sekitar 13 km, dan jalan rusak mampu diredam dengan baik oleh kedua shockbreaker depan serta monoshock belakang. Padahal monoshock tanpa link, berbeda dengan All New CB150R yang sudah prolink, tapi kok bisa empuk ya..

Meliuk liuk kecil terasa safe, siku tidak berasa sempit seperti ketika riding FU yang seringkali siku bersinggungan dengan bawah ketiak ketika meliuk kecil. Kombinasi rear braking dan sedikit front diatas jalan berpasir masih mumpuni. Salut untuk yang satu ini.

Yang terasa kurang yaitu busa jok, terasa keras bahkan nyaris sebelas duabelas dengan si bolang. Tapi untuk bobot saya yg extra ringan, kendala jok baru terasa di jalan rusak saat pantat banyak bermain dan shock memainkan perannya.

Sayang belum sempat test membonceng cabe cabean dan dibonceng, jadi blm bisa percaya seberapa tangguh dipakai selap selip berboncengan, dan seberapa nyaman jadi boncenger ayago satu ini. Pastinya ngga bakal senyaman dibonceng bebek atau matik, tapi kan penasaran juga. Setidaknya dibandingkan dengan kompetitor lebih nyaman mana buat boncengan kekasih orang sambil ‘maen rem’ .. ahahhaaayy

27 2829

Panjang bener ya.. saya sekedar share saja ya, bukan berarti hasil test yang sy dapat adalah mutlak untuk semuanya, karena beda orang beda lokasi bisa beda pengalaman. Ngga bermaksud memojokkan produk tertentu. Semoga ngga bosen dah nyimaknya. Trims sudah berkunjung, berikutnya nanti pendalaman materi mengenai akselerasi 201m yak.

Keep Safe!

Naik Sonic, jadi pusat perhatian. Namun jadilah perhatian yang dikagumi bukan diumpat pengguna jalan lain. (Seehhh..)

Semoga bermanfaat .


Baca baca yah yang menarik lainnya

Iklan

Silahkan Memberikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s