Nissan LEAF memberi daya pada bangunan melalui perangkat vehicle-to-building

O to Born ~ Electric Vehicle atau EV mungkin bagi kita di Indonesia memandangnya pantas pantas aja teknologi tersebut hadir di negara maju seperti Jepang. Tapi tahukah faktanya bahwa kehidupan masyarakat Jepang tidak mulus mulus aja. Sebuah negara yang sering mengalami angin topan serta 10% dari gempa bumi dunia – lebih dari 2.000 kali pada tahun lalu, adalah sisi lain dari negara yang sangat dikenal dengan kekayaan intelektual dan teknologinya ini. Dan selalu paska bencana alam pasokan listrik akan lebih dahulu pulih sebelum pasokan bensin kembali normal. Bolehlah disimak Bagaimana EV Membantu Masyarakat Jepang Bangkit Paska Bencana Gempa dan Tsunami.

Ketika Nissan LEAF kendaraan EV dari perusahaan otomotif ternama dunia pertama kali dijual pada tahun 2010, salah satu kekhawatiran utama tentang mobil listrik adalah di mana pengisian daya akan dilakukan. Saat ini, stasiun pengisi daya jauh sudah lebih banyak tersedia, kapasitas baterai telah meningkat dan jangkauan kendaraan listrik telah sangat diperluas. Saat ini pertanyaan tentang EV bukan lagi “Di mana mereka bisa mendapatkan daya,” melainkan “Ke mana mereka bisa pergi untuk memberikan daya?”

 

Penggunaan baru untuk mobil listrik telah muncul dalam beberapa tahun terakhir. Selain mengangkut orang dan barang secara efisien dan andal sambil menghasilkan nol emisi, mereka juga terbukti cocok untuk memberikan bantuan pada saat bencana alam.

Di Jepang, EV telah terbukti menjadi alat yang sangat berguna untuk ketahanan masyarakat.

“Kurang dari tiga bulan setelah generasi pertama LEAF diluncurkan, pantai timur laut Jepang dilanda gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011,” kata Ryusuke Hayashi, manajer senior operasi EV di Nissan. “Sejumlah 4,8 juta rumah tangga kehilangan listrik, dan Nissan menyediakan 66 LEAF untuk daerah yang dilanda bencana.”

“Para profesional medis di pusat evakuasi adalah orang pertama yang mendekati kami tentang kemungkinan menggunakan kendaraan ini sebagai baterai cadangan untuk pemanasan dan keperluan lainnya – cuaca masih dingin di sana pada bulan Maret. Pengalaman itu memicu Nissan untuk mempercepat pengembangan teknologi yang memungkinkan EVS untuk berbagi energi yang tersimpan dalam baterai mereka dengan rumah, bangunan, dan masyarakat.”

Dengan pembangkit listrik portabel, Nissan LEAF e + generasi terbaru dengan baterai 62-kilowatt hour yang terisi penuh dapat menyediakan listrik yang cukup untuk memberi daya pada rumah Jepang rata-rata selama empat hari. Atau, bisa mengisi daya 6.200 smartphone, atau bahkan menyalakan lebih dari 100 perjalanan pulang-pergi lift di gedung apartemen 43 lantai.

Keuntungan lain dari EV setelah bencana alam adalah bahwa listrik biasanya dipulihkan sebelum pasokan bensin kembali normal. Menurut Badan Sumber Daya Alam dan Energi Jepang, 90% dari jaringan listrik Jepang dipulihkan dalam waktu seminggu setelah bencana Maret 2011, sementara hanya 50% dari pompa bensin dibuka kembali.

Dengan pemikiran itu, Nissan telah menjalin kemitraan dengan semakin banyak kota di Jepang selama beberapa tahun terakhir, menjadikan Nissan EV sebagai kendaraan resmi mereka. Selain menawarkan dukungan selama keadaan darurat, kendaraan juga dapat menyediakan transportasi sehari-hari yang bebas emisi. Melalui kemitraan yang sama ini, dealer Nissan lokal juga memasok test-drive EV mereka secara gratis selama pemadaman listrik.

 

Nissan LEAF memberi daya pada bangunan melalui perangkat vehicle-to-building

Di bawah kemitraan lain yang dilakukan Nissan di Jepang, rantai toserba menggunakan LEAF untuk memulihkan daya selama keadaan darurat. Hal ini memungkinkan penghuni untuk membeli barang-barang penting, dari makanan dan minuman hingga popok serta perlengkapan mandi, ketika sebagian besar bisnis lain masih tutup.

EVs kembali menunjukkan potensi mereka setelah Topan Faxai September 2019 baru-baru ini yang menyebabkan pemadaman besar-besaran di Chiba, Jepang dan daerah sekitarnya. Lebih dari 340.000 rumah tangga di Chiba tidak mendapatkan pasokan listrik selama lebih dari tiga hari dalam cuaca lembab. Nissan mengirim LEAF ke pusat-pusat komunitas setempat dan memungkinkan penduduk menggunakan baterai EV untuk kipas angin, lemari es, freezer, penerangan dan telepon pintar.

 

Hal ini sebenarnya sejalan dengan visi menjadikan kendaraan listrik bisa bermanfaat maksimal bagi penggunanya, memperkenalkan cara cara baru memnfaatkan kemampuan baterai dan berbagi energi. Sebagai bagian dari rencana tersebut, yang dinamakan Nissan Energy, pemilik kendaraan listrik Nissan akan dapat dengan mudah menghubungkan mobil mereka dengan sistem energi untuk mengisi baterai mereka, memberi daya kepada rumah dan bisnis, atau memasok energi kembali ke jaringan listrik. Nissan juga akan mengembangkan cara baru untuk menggunakan kembali baterai mobil listrik.

Nissan telah memulai sejumlah program di AS, Jepang dan Eropa yang bertujuan menciptakan “ekosistem” yang menaungi jajaran kendaraan listriknya, termasuk Nissan LEAF, mobil listrik terlaris di dunia. Nissan Energy menyatukan inisiatif ini sebagai bagian dari strategi Nissan Intelligent Mobility.

Nissan Energy akan menerapkan standar-standar baru untuk menghubungkan kendaraan ke sistem energi melalui tiga inisiatif utama:

Nissan Energy SupplyNissan Energy Share dan Nissan Energy Storage.

 

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.