Oleh Oleh Perjalanan, Kisah Sepasang Bola Mata Jangan Pupuskan Asa Dan Cita

Otoborn – Ada penggalan kisah yang terangkum sebagai oleh oleh perjalanan dari 9 kota yakni Atambua, Nunukan, Sabang, Entikong, Merauke, Rote, Natuna, dan Talaud, di samping Jakarta. Sesuai judulnya, kisah ini terkait dengan sepasang bola mata.

Banyak yang anggap sepele persoalan yang satu ini, termasuk otoborn semasa sekolah dahulu justru kepingin pakai kacamata karena kepingin ikutan kakak kakak kandung yang semuanya pakai kacamata dan kepingin ganteng kaya Superboy. Tolong jangan ketawa ya… #lol

baca juga: Modifikasi TVS Apache RTR200 Adventuring

Padahal disisi lain, persoalan ini mampu memupuskan harapan cita cita akan profesi seorang anak di masa depan, seperti contohnya Klaritagarpenassy, siswi kelas 5 SD di Merauke, Papua, yang pernah bercita cita menjadi seorang polwan harus mengubur cita citanya tersebut karena mata minus.

Maya Klaritagarpenassy, salah satu siswi berprestasi yang duduk di kelas 5 SD YPPK Don Boscho Budhi Mulia Merauke, yang setelah diperiksa ternyata memiliki mata minus dua. Maya awalnya bercita-cita menjadi seorang Polwan, namun kondisi matanya sudah minus, Maya lalu ingin menjadi guru karena senang berada dekat anak-anak.

Tonton : Video Teaser Honda All New CBR250RR

“Awalnya aku bercita-cita menjadi Polwan, tetapi karena mataku minus dua, terpaksa kualihkan cita-citaku menjadi guru yang tidak mempermasalahkan kondisi mata minus,” ungkap Maya seusai pemeriksaan mata di sekolahnya.

“Aku sempat menyesali kondisi mataku, namun aku bersyukur akan kedua mataku yang masih melihat dengan baik berkat bantuan kacamata dan aku akan merawat sebaik-baiknya,” ujarnya dengan penuh harap.

Cerita lain dialami anak-anak di Natuna, Kepualaun Riau. Salah satunya Nurmalinawati. Dua tahun silam matanya minus 6. Namun, pemeriksaan mata yang tidak rutin dan tidak dibantu dengan kacamata membuatnya sekarang bermata minus 13. Kejadian ini terekam sewaktu pemeriksaan mata pada 11 Januari 2017 lalu.

Persoalan mata ini sama sekali bukan masalah sepele. Kepala Divisi Kesehatan Rumah Sakit dan Sosial PMI Pusat dr. Mochamad Arfan yang telah mengikuti hampir seluruh pembagian kacatama melalui GenerAKSI Sehat Indonesia mengatakan, “Di tiap-tiap kota, rata-rata sekitar 15% dari 300 anak-anak yang diperiksa mengalami kelainan refraksi yang cukup serius.”

Ia mencontohkan bahwa data pemeriksaan mata anak di Merauke yang mengalami minus besar mencapai 25%, sedangkan di Jakarta dalam hal ini Jakarta Utara bahkan mencapai 30%. 

Permasalahan mata anak muncul tidak hanya disebabkan oleh gangguan minus akibat tidak adanya sarana dan prasarana untuk memeriksa kesehatan mata mereka, namun persoalan lain juga terjadi akibat kurangnya asupan gizi, terutama sayur mayur, khususnya yang mengandung vitamin A.

Seperti halnya yang terjadi di Natuna. Bahkan di sana ditemukan fenomena anisometropia, yakni gangguan mata yang mengindikasi perbedaan jauh antara minus mata kiri dan kanan. Misalnya, jika mata kiri minus 1, mata kanannya minus 4-5. Kejadian ini sangat jarang terjadi di daerah lain di Indonesia.

Bahkan, dalam hal cerita lain, khususnya mengenai keterlibatan orang tua, ada kasus yang sangat tragis di mana seorang anak bernama Rukun, yang selalu dituntun sang Ibu untuk pergi dan pulang sekolah. Ternyata matanya minus 16 setelah dilakukan pemeriksaan mata yang selama ini tidak pernah dilakukan orang tuanya. Kenyataan ini baru diketahui setelah ia berusia 16. Jadi, di sini masalahnya adalah keterlambatan dalam hal memeriksa kesehatan mata kepada ahlinya. Sementara orang tuanya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut sejak Rukun kecil.

foto-4-1

Intip juga: Video Detail Honda CBR250RR Pamer Pesona Di IMOS2016

Banyak kasus mata anak-anak di berbagai daerah terdepan di Indonesia terjadi akibat situasi di daerah itu sendiri, termasuk ketiadaan dokter ahli mata di suatu daerah sehingga mereka tidak dapat memeriksakan kondisi mata sedini mungkin. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa 6,6 juta anak Indonesia usia sekolah mengalami gangguan pada mata. Angka tersebut relatif cukup besar bila dibandingkan jumlah anak usia sekolah yang mencapai 66 juta.

Di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Aryanto Messah dan saudara kembarnya mengalami kerusakan mata yang cukup serius. Keduanya yang duduk di kelas 2 SMP pun mengalami kerusakan mata yang sama pula. Kali ini, kerusakan mata anak-anak ini sudah sulit disembuhkan. Kacamata hanya dapat membantu mereka melihat sedikit lebih jelas. Perlu adanya penanganan khusus bagi keduanya.

Ketika dikonfirmasi (28 November 2016), Bupati Rote Ndao Leonard Haning menjelaskan: “Sampai saat ini, kami belum memiliki ahli mata dan optik, dan kami bersyukur pada acara kali ini hadir Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Ini pertama kali, Menteri Kesehatan hadir di Rote Ndao setelah 71 tahun Indonesia merdeka.”

Siswi kelas 4 SDN 08 Nekan di Entikong, Kalimantan Barat, diketahui pula mengalami gangguan refraksi pada matanya. Ia baru tahu kalau matanya minus dua usai pemeriksaan pada 11 Januari 2016. Namun, cita-cita siswi bernama April tersebut tidak surut. Kelak, ia ingin berkuliah di jurusan kedokteran di Pontianak.

Lihat juga: Galeri Suzuki GSX-R150 Di IMOS 2016

Siswi kelas 4 SDN 08 Nekan di Entikong, Kalimantan Barat, diketahui pula mengalami gangguan refraksi pada matanya. Ia baru tahu kalau matanya minus dua usai pemeriksaan pada 11 Januari 2016. Namun, cita-cita siswi bernama April tersebut tidak surut. Kelak, ia ingin berkuliah di jurusan kedokteran di Pontianak.

Kini, semua anak-anak tersebut telah mendapat bantuan kacamata berkat bantuan masyarakat Indonesia melalui GenerAKSI Sehat Indonesia yang digagas Astra. Bersama Kementerian Kesehatan dan Palang Merah Indonesia (PMI), Astra berharap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dapat melihat lebih jelas untuk menggapai cita.

Program terakhir GSI 2016-2017 dilakukan pada 21 Januari 2017 di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Sebanyak 2.000 kacamata kembali diserahkan Astra bagi anak-anak di kawasan paling utara Indonesia Timur, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Penyerahan kacamata dilakukan secara simbolis oleh Bupati Talaud Sri Wahyuni Maria Manalip, Perwakilan Ketua PMI Sulawesi Utara Annie Dondokambey, Ketua DPRD Talaud George Rompah, Head of Environment & Social Responsibility PT Astra International Tbk, dan Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman kepada empat perwakilan siswa SDN 1 Beo, Kepulauan Talaud. 

Bupati Talaud Sri Wahyuni Maria Manalip mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Astra dalam membantu anak-anak Talaud: “Tidak adanya pemeriksaan mata gratis seperti yang dilakukan Astra ini menjadi salah satu penyebab kerusakan mata anak.”

Di samping itu, ia juga menyampaikan beberapa kebiasaan anak-anak yang merusak mata, seperti seringnya bermain gadget, terlalu lama menonton televisi, dan membaca buku sambil tiduran.  “Saya berterima kasih atas kedatangan Astra di Talaud sebagai pulau terluar di wilayah timur. Dengan ini seharusnya kerusakan mata anak-anak Talaud bisa berkurang.”

Maya Klaritagarpenassy, salah satu siswi berprestasi yang duduk di kelas 5 SD YPPK Don Boscho Budhi Mulia Merauke, yang setelah diperiksa ternyata memiliki mata minus dua. Maya awalnya bercita-cita menjadi seorang Polwan, namun kondisi matanya sudah minus, Maya lalu ingin menjadi guru karena senang berada dekat anak-anak.

Baca juga: Galeri Foto Yamaha Tricity 155 VVA IMOS2016

Program GenerAKSI Sehat Indonesia mengajak masyarakat untuk melakukan social movement melalui berbagai AKSI SEHAT seperti olahraga, makan buah dan sayur, deteksi dini pemeriksaan kesehatan, dan aksi sehat lain yang dilakukan bersama teman dan keluarga. Setiap AKSI SEHAT yang mereka kampanyekan melalui media sosial akan dikonversikan oleh Astra menjadi kacamata yang didonasikan untuk anak-anak di wilayah perbatasan dan terluar Indonesia.

Pada tahun 2014-2015, sebanyak 9.048 kacamata telah didonasikan ke lima wilayah perbatasan dan terluar Indonesia, yaitu: SabangAceh; Entikong Kalimantan Barat; Nunukan – Kalimantan Utara; Atambua – Nusa Tenggara Timur, dan MeraukePapua.

Program GSI 2016-2017 berhasil memperoleh total unggahan melalui media sosial sebanyak 6.606 dan telah dikonversi menjadi kacamata untuk anak-anak di Rote Ndao – Nusa Tenggara Timur, Natuna – Kepulauan Riau, dan Talaud – Sulawesi Utara.

Setelah penyerahan kacamata di Talaud ini, secara keseluruhan jumlah kacamata yang diberikan Astra bagi anak-anak Indonesia hingga saat ini sebanyak 15.654 kacamata.

Sumbangsih Astra di bidang kesehatan yang terangkum dalam program Astra untuk Indonesia Sehat telah memberikan pengobatan gratis kepada 120.087 pasien, pembinaan 1.537 posyandu, menyumbangkan 198.013 kantong darah, dan membina 43 Kampung Berseri Astra.

Pada prinsipnya, di mana pun instalasi Astra berada harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma Astra, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”.

———–

Keep Respect and Safety when Riding !


Silahkan kunjungi juga artikel lainnya

.

.

.

.

.

Contact me by:

Email: ramadhi.harimurti[at]gmail.com

WhatsApp chat: 081-tujuh-satu-tujuh-nol-satu-84

Terima kasih sudah berkunjung membaca dan dibantu share artikel ini, semoga bermanfaat.

Iklan

Silahkan Memberikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s